We have new forums at NiteshKothari.com
TopBottom
Announcement: wanna exchange links? contact me at clwolvi@gmail.com.

Mabuk Sebelum Cincang Tubuh Paman

Posted by Indo - Comtech at Minggu, 07 Juni 2009
Share this post:
Ma.gnolia DiggIt! Del.icio.us Yahoo Furl Technorati Reddit

Tubuh John ambruk ditebas parang keponakannya sendiri.
Nasi di piring belum lagi habis ketika John Lamstar S, mendengar teriakan dari luar rumah. Jarum jam saat itu sudah menunjuk pukul 21.30 WIB. Lelaki berusia 39 tahun itu merasa jam makannya terganggu. Emosi meninggi. Tubuhnya yang masih penat lantaran baru pulang ke rumah mereka di Kampung Sei Sudip, Dompak Darat, Tanjungpinang, kian gusar manakala dari luar, suara tantangan didengar John.

"Keluar kau, keluar. Biar sekali kumatikan kau," begitu bunyi tantangan itu. Istri John, Tiurma Harianja (34), dan kedua anak lelaki mereka juga ikut mendengar teriakan itu. John benar-benar marah. Perkataan itu menurutnya sangat tidak pantas terucap dari mulut seorang pemuda yang juga masih keponakannya sendiri, Hendra.

Tanpa mempedulikan rasa capek, John kemudian berhambur keluar pintu. Hendra si keponakan yang menurutnya sudah sangat kurang ajar dinampaki berdiri bertolak pinggang sekitar 50 meter dari rumah mereka. Kata-kata kotor terus terucap dari mulut pemuda berusia 22 tahun tersebut. Jhon jadi benar-benar makin naik pitam.

Dia kemudian mendekati Hendra yang tak henti merancau. Belum sempat melakukan apa-apa, Hendra kemudian melayangkan parang yang panjangnya sekitar 60 sentimeter. Berkali-kali parang tajam itu ia tebaskan ke tubuh John. Kepala, tangan, kaki, jadi sasaran.

"Tuhan, parang itu dia tebaskan menggunakan dua tangan," kata Tiurma, merinding menyaksikan kejadian itu dari depan rumah. Dia tak kuasa membantu suaminya. Tiurma hanya berdiri sambil berteriak sekuat-kuatnya meminta Hendra menghentikan perbuatannya itu. Hendra kemudian pergi setelah Jhon terkapar bersimbah darah.

Kendati terluka, Jhon masih sempat berdiri. Dia masih memiliki sisa tenaga menghubungi ketua RT setempat untuk membantunya. Tak lama setelah itu, Jhon akhirnya pingsan. Dia kemudian dilarikan ke RSUD Tanjungpinang. Semalaman dia dirawat insentif di ruang unit gawat darurat.
Luka yang dialami Jhon cukup parah. Ibu jari tangan kirinya nyaris putus. Sementara luka koyak memanjang di kepala sebelah kiri dan paha kiri. Hingga kemarin, Jhon belum sadarkan diri. Dia keritis terbaring lemas di ruang kamar nomor 2 Pavilium Bougenvile RSUD Tanjungpinang.



Dendam, Pukulan Paman Masih Terasa

Usai melukai Jhon, Hendra lantas berlari masuk hutan. Parang berlumur darah ia pegang erat di tangan. Entah berapa jauh kakinya dilangkahkan. Semak belukar, anak sungai, dia terobos di bawah terang bulan purnama.

Ia baru berhenti setelah bertemu jalan aspal. Duduklah dia ketika itu. Duri yang melekat di telapak kaki dia lepaskan satu-persatu. Saat itu, Hendra masih menyadari apa yang dia lakukan barusan. Termasuk juga dengan apa yang terjadi pada awal bulan lalu.

Hari itu, Jumat (1/5), dia berkelahi dengan anak keponakan pamannya, Candra (15). Hendra tidak terima sepupunya itu menggali-gali tanah mencari cacing di kebun ubi yang dia olah sejak 6 bulan belakangan. "Saya minta dia menggali tempat lain," ujar Hendra siang kemarin.


Candra katanya tidak terima. Candra kemudian melempar dirinya dengan tanah. "Saya tidak terima itu," Hendra menambahkan. Marah, sepupunya itu lalu dia gampar. Candra melawan. Dia juga tidak terima dengan perlakuan itu. Pondok tempat Hendra tinggal, dia lempar. Apa yang dialami Hendra disaksikan ibunya. Tiurma hanya berusaha meredam suasana. Kejadian selesai sampai di situ.


Tapi tidak keesokan harinya. Apa yang terjadi pada Candra, sampai juga kepada sang bapak. Samuel, adik Candra, bercerita. Jhon jadi naik pitam. Hendra yang sedang melintas dengan sepeda motor dia hentikan. Apa yang dilakukan Hendra kepada sepupunya dibalas sedemikian rupa. "Saya jadi dendam. Apalagi kejadian itu sampai ke ketua RT. Mulai saat itu saya diam saja," kata Hendra lagi.


Dari hari ke hari, Hendra memendam dendam itu. Remaja yang pernah lima bulan jadi TKI dan sebulan masuk lokap di Malaysia itu, mengaku masih merasakan bagaimana perlakukan sang paman kepadanya. Sabtu malam itu, Hendra mabuk. Sejak sore dia bersama teman-temannya, menenggak tuak di sebuah kedai di Batu 8. Banyaknya enam botol.


Pukul 20.30 WIB, dia pulang dan memasak mie instan. Paman dan sepupunya tempat dia menumpang, sudah terlelap. Mie yang dimasak lalu dimakan. Baru habis separuh, Handra mendengar suara raungan sepeda motor melintas di depan pondoknya. Dia seketika emosi. "Itu paman saya. Sepertinya dia sengaja mau bikin pasal," ujar Hendra.


Lekas mie yang masih tersisa dia habiskan. Dia kemudian langsung keluar. Dari jarak sekitar 50 meter dari rumah pamannya, dia berteriak. Parang panjang sengaja dia persiapkan. "Dia saya tahu biasanya bawa pisau. Makanya parang itu saya siapkan," katanya lagi. Begitu sang paman keluar, parang yang biasa digunakan untuk merumput di kebun itu pun ditebaskan. "Saya tak ingat lagi berapa kali," beber Hendra.


Usai melakukan itu, Hendra lalu pergi berlari. Dia kemudian berhenti tak jauh dari Base Camp PT Karya Abadi, sebuah perusahaan tambang bauksit yang beroperasi di Dompak Darat. Di sanalah dia kemudian ditangkap polisi dengan tanpa perlawanan. Parangnya tak ada lagi.


"Hingga sekarang kami masih mencari barang bukti parang yang dia gunakan," kata Kapolsekta Bukit Bestari, AKP Arifin Efendi kemarin. Atas perbuatannya itu, Hendra dijerat dengan pasal 351 ayat 2, melakukan penganiayaan berat. Ia kini mendakam di sel tahanan Mapolsekta Bukit Bestari.
Ditemui kemarin, Hendra mengaku menyesal. Perbuatan itu dia lakukan lantaran dendam yang ditambah pengaruh minuman keras.





Label:

Posting Komentar